Kamis, Februari 16, 2012

Universitas Sebagai Solusi


oleh : Nilam Ramadhani

Perguruan tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, saat ini dituntut untuk menjadi bagian daripada solusi (university as a solution) terkait alumninya yang akan terjun di masyarakat nantinya. Bagaimana tidak? PT yang dibangun oleh para akademisi intelektual seharusnya mampu memberi rumusan terkait segala permasalahan yang timbul yang berhubungan dengan keluaran alumninya,dan user yang akan memakai jasanya.

Tuntutan itu didasari oleh semakin meningkatnya pengangguran yang “dihasilkan” oleh PT tiap tahunnya. Kalau PT hanya mampu menghasilkan alumni tapi tidak bisa diserap oleh lapangan kerja, maka hal ini tentu akan menjadi masalah. Kita semua tidak ingin kan kalau PT itu menjadi bagian dari masalah? Maka PT harus menempuh langkah-langkah agar para alumninya bisa “laku” di bursa kerja. Salah satunya adalah dengan mengubah model pembelajaran. Jika sebelumnya pembelajaran hanya melibatkan proses berpikir saja, maka proses yang seharusnya ditambah adalah proses melakukan/bekerja. Jadi nantinya akan terjadi proses bekerja sambil belajar, yang menurut pakar pendidikan merupakan salah satu model pembelajaran terbaik.

Mengapa konsep bekerja sambil belajar adalah model pembelajaran terbaik? Kalau kita melihat sistem pembelajaran yang tercantum dalam kurikulum di lembaga perguruan tinggi, tidak banyak sebenarnya prosentase matakuliah yang memberikan porsi untuk mencapai pembelajaran sambil bekerja. Bekerja disini diartikan sebagai bentuk implementasi dari kegiatan belajar di bangku kuliah yang diterapkan pada dunia kerja secara riil. Karena kebanyakan materi pembelajaran kuliah masih belum melihat dan menyentuh pada titik kebutuhan akan industri/dunia kerja.

Langkah awal untuk mendesain model pembelajaran yang sesuai permintaan pengguna, yaitu dengan membuat model rekruitmen calon mahasiswa yang melibatkan user pengguna jasa dari alumni mahasiswa tersebut. Selama ini proses penjaringan/rekruitmen dari calon mahasiswa hanya melibatkan pihak internal PT saja dan belum mengikutsertakan pihak eksternal seperti pengguna jasa. Dari keikutsertaan pengguna jasa inilah PT bisa merancang dan merumuskan sistem pembelajaran yang user-based.

Nah, apabila PT sudah mengetahui peta kebutuhan dari user yang akan memakai alumninya, maka hal ini menjadi point strategis untuk menyusun kurikulum yang tepat sasaran. Sehingga keluaran dari proses penyusunan kerangka pembelajaran ini akan menjadi simbiosis mutualisme antara PT,Alumni, dan Users. Hal ini diharapkan akan menjadi salah satu solusi bagi terserapnya alumni di dunia kerja sehingga akan menekan berkurangnya angka pengangguran terdidik.

Paradigma lama yang menyatakan bahwa sekolah/PT adalah tempat untuk menimba ilmu memanglah benar. Namun secara ideal, selain sebagai tempat untuk belajar, sekolah/PT seharusnya juga mampu untuk meningkatkan kemampuan bekerja melalui proses belajar tadi. Sehingga alumni nantinya betul-betul mampu bersaing dan bisa langsung bekerja tanpa perlu berlama-lama pada proses adaptasinya di tempat si alumni bekerja.

Untuk mencetak alumni berkualitas yang mudah diserap dunia kerja dan menjadikan lembaga memiliki kredibilitas di mata masyarakat, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh PT, diantaranya yaitu :

1. Komitmen untuk kualitas dan investasi strategis
PT yang berkualitas hendaknya harus memiliki komitmen untuk meningkatkan secara mutu sejumlah elemen akademik pembangun internal seperti dosen, sumber-sumber untuk belajar seperti referensi buku,koneksi internet,dan laboratorium teknis. Elemen inilah yang menjadi ujung tombak kekuatan mutu dari sebuah PT. Elemen ini juga yang harus terus di upgrade sebagai langkah investasi strategis dari sebuah PT yang mempunyai komitmen terhadap kualitas lembaga.

2. Membangun jejaring kerja dengan users
Selain meningkatkan kekuatan mutu di sisi internal, disaat yang sama PT juga harus membangun network dengan user. Tujuannya agar terjalin komunikasi dua arah dengan pihak pengguna yang informasi itu akan dipakai sebagai bahan acuan pertimbangan penyusunan sistem pembelajaran yang user-based. Selain itu agar para alumni nantinya tidak perlu susah-susah lagi dalam mengakses atau mencari pekerjaan karena sebelumnya sudah ada bentuk kesepakatan pengambilan tenaga kerja dari lulusan PT.

3. Menjalin dukungan dari pemerintah setempat
Pemerintah sebagai penguasa dan pembuat kebijakan hendaknya juga open-minded jika ada PT setempat yang memiliki inisiatif terhadap pengembangan daerah melalui sisi pendidikan sebagai muara cikal bakal perubahannya. Tanpa dukungan dari pemerintah setempat akan sulit rasanya bagi PT dalam proses pengembangan dan peningkatan terhadap mutu pendidikan yang akan dilakukan. Oleh karenanya, menjalin dukungan dari pemerintah setempat juga merupakan bagian tak terpisahkan bagi PT dalam merencanakan pelaksanaan pendidikan yang berkualitas. Sinergi inilah yang diharapkan mampu memberi kontribusi pada pembangunan daerah khususnya ketersediaan SDM yang mumpuni karena telah dibekali dengan modal keilmuan yang memadai.

Maka sudah sewajarnyalah jika PT menjadi bagian dari solusi terhadap segala permasalahan, yang dalam pengejawantahannya diperlukan sejumlah resources memadai. Peningkatan mutu merupakan salah satu cara terbaik untuk memberikan jawaban jangka panjang terhadap penyelenggaraan pendidikan yang implikasinya pada keluaran SDM berkualitas. Oleh karenanya, semua elemen yang memiliki kepedulian hendaknya memberikan kontribusi yang nyata dan sistematis. Sehingga istilah “University as a Solution” tidak sekedar menjadi wacana belaka, namun telah dilakukan dan memberi hasil yang memuaskan semua pihak.
Semoga..

(Surabaya,November-Desember 2011)
Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Senin, Juni 27, 2011

Catatanku Tentang Jembatan Suramadu


oleh : Nilam Ramadhani


Saat ini, mungkin bagi saya melintasi Jembatan Suramadu (JS) yang panjangnya 5,4 KM itu bukanlah suatu hal yang begitu istimewa. Maklum, sejak studi di kota Surabaya, setidaknya 2 kali dalam seminggu dan 32 kali Pulang-Pergi dalam satu semester saya melewati jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Madura itu. Bagi saudara-saudara dan teman-teman saya yang belum pernah menyeberangi JS, barangkali sebuah kesenangan tersendiri jika sudah melaluinya dan mungkin sekedar berfoto ria disana.

Sejak diresmikan oleh Presiden SBY pada 10 Juni 2009 lalu, JS ternyata dapat menyita perhatian dari banyak kalangan. Sebab harapannya, JS secara akseleratif harus mampu “menjembatani” perubahan pada Madura. Memang, tujuan dibangunnya JS adalah untuk lebih meningkatkan pembangunan di Madura sesuai Keppres No 79 Tahun 2003. Perlahan-lahan target pada sektor ekonomi, pendidikan, pariwisata, dll akan bertumbuh. Itu tidak terlepas dari percepatan mobilitas yang bisa dicapai karena adanya JS.

Kalau saya analogikan dengan rumus fisika, S(jarak)=V(kecepatan) x t(waktu), maka dengan hadirnya JS, kecepatan bisa ditingkatkan dengan waktu tempuh yang semakin singkat. Hasilnya adalah pertumbuhan yang mengalami akselerasi. Pastinya, hasil tadi akan didapat jika seluruh elemen yang berkepentingan di Madura memiliki komitmen yang kuat untuk sebuah perubahan ke depan yang lebih baik.

Makna kemegahan JS sebenarnya sangat luas dan kompleks. Ia adalah sebuah bangunan fisik, yang pengaruhnya begitu besar bagi kehidupan masyarakat di Madura khususnya. JS bukanlah sebuah prestise belaka. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana memanfaatkan JS semaksimal mungkin untuk kemaslahatan banyak orang, terutama di sisi Madura. Bukan malah sebaliknya, JS tidak dapat mengangkat pertumbuhan kehidupan yang lebih baik di Madura. Jangan sampai itu terjadi!

Untuk merealisasikan semua tujuan mulia itu memang perlu adanya persiapan, evaluasi, introspeksi, dan perbaikan secara terus-menerus dan berkala. Yang terlibat dalam proses itu seharusnya juga semua elemen yang ada, mulai dari tingkat akar rumput (aras bawah) hingga ke pucuk yang tertinggi (aras atas). Lantas, apa yang harus diperbuat oleh setiap pribadi yang peduli terhadap perubahan itu agar hasil positif tadi menjadi tepat sasaran?

Menurut saya, setidaknya ada empat hal pokok yang harus dikerjakan :

1. Matangkan konsep tentang wajah Madura ke depan
Madura kedepan mau dibuat seperti apa? Inilah yang pertama kali mesti dipikirkan secara matang sebagai langkah awal/starting point dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Masyarakat Madura memiliki kultur budaya yang kental dan unik. Jangan sampai konsep yang dicanangkan akan merubah wajah asli dari Madura. Namun, idealnya ia harus menjadi sinergi dan saling menguatkan satu sama lain. Inilah pentingnya tentang mematangkan konsep akan Madura dimasa mendatang.

2. Persiapkan fondasi fundamental dalam mendukung konsep yang sudah dibuat
Setelah semua pihak sepakat akan konsep wajah Madura kedepan, tahap selanjutnya adalah mempersiapkan fondasi yang sangat mendasar yang dibutuhkan untuk tujuan tadi. Sebagai analogi saja, membangun rumah satu tingkat dengan membangun gedung pencakar langit pastinya menggunakan teknik fondasi yang berbeda. Perkirakan apa saja yang menjadi kebutuhan untuk merealisasikan konsep yang telah disepakati. Karena dengan mengetahui kebutuhan, akan lebih mudah didalam menjalankan langkah-langkah berikutnya.

3. Libatkan semua pihak yang berkompeten dibidangnya untuk merealisasikan konsep yang sudah matang
Pelaksanaan kebijakan di sebuah daerah dikuasai oleh pemerintah setempat. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintah juga tidak bisa dan tidak boleh bekerja sendirian. Karena orang-orang yang memiliki kompetensi tidak hanya ada di instansi pemerintahan saja. Mereka yang harus dilibatkan setidaknya adalah ABGS, A=Academic, yaitu kaum akademis yang berada di lembaga pendidikan, B=Bussiness, yaitu kalangan bisnis atau pengusaha, dan G=Government, yaitu pemerintah itu sendiri, dan S=Society, yaitu perwakilan dari sekelompok masyarakat.
Ketika semua pihak tadi bertemu, harapannya sanggup merumuskan formulasi jitu yang dapat memberikan jalan keluar demi realisasi konsep yang telah dirancang. Rumusan itu tentunya didapat setelah mengukur segala kemungkinan di semua lini terkait implikasi JS kedepannya. Tanpa memperhitungkan segala kemungkinan tadi, sulit rasanya merumuskan solusi yang efektif namun efisien.

4. Implementasi dan evaluasi
Setelah ketiga tahap sebelumnya telah rampung dan siap, langkah selanjutnya adalah implementasi di lapangan. Pengimplementasian ini tidak boleh dilepas begitu saja. Harus terus dilakukan monitoring dan pendampingan oleh pihak yang memang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini untuk mencegah tujuan yang ingin dicapai akan keluar dari jalur yang telah ditetapkan. Agar berimbang, implementasi juga harus dibarengi dengan evaluasi. Karena konsep yang dicanangkan bisa saja memiliki kekurangan dan kelemahan yang tidak diketahui sebelumnya. Evaluasi idealnya harus dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, agar terjadi perbaikan dan penyempurnaan terhadap sisi lemah konsep yang sudah diimplementasikan.

Setidaknya empat hal diatas yang menjadi langkah awal membentuk wajah Madura kedepan yang perlu dilakukan. Meskipun JS sudah terbentang megah, namun masih banyak hal yang bisa kita lakukan untuk lebih memberi arti terhadap perubahan di Madura. Semua elemen yang peduli terhadap Madura wajib berkontribusi dan memberi sumbangsihnya dalam rangka membangun Madura yang lebih baik kedepan. Sehingga, citra yang mendiskreditkan Madura dimata banyak orang selama ini lambat laun akan sirna. Bukan untuk siapa, tapi untuk kita semua..

Semoga..

(Madura-Surabaya, Juni 2011)
Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Senin, Juni 06, 2011

Jadilah Pribadi Menginspirasi


oleh : Nilam Ramadhani

Saya pernah berdiskusi dengan seorang kawan beberapa waktu lalu tentang bagaimana menjadi seseorang yang dapat menginspirasi orang lain. Tentu menginspirasi dalam hal yang positif,membangun,dan membentuk pribadi yang lebih baik dan berkarakter. Istilah sekarangnya adalah : “How to be a trend setter?”. Sedangkan kebanyakan dari kita hanya sebagai pengekor saja. Berikut ulasan singkatnya..

***
Setiap pribadi manusia memiliki sesuatu yang unik,yang tidak dimiliki oleh orang lain. Tidak perlu khawatir karena diri kita berbeda dengan orang lain. Dibalik itu pastilah ada kekuatan yang dapat membedakan seseorang satu dengan yang lainnya. Alangkah lebih baiknya apabila setiap pribadi itu bersyukur terhadap segala kondisi yang diberikan Tuhan kepadanya.

Tidak ada yang salah ketika manusia dilahirkan dengan keadaan yang berbeda. Semua pemberian Tuhan itu pasti baik adanya. Permasalahannya,bagaimana kita merespon segala pemberian itu? Apakah respon berburuk sangka yang lebih dominan, atau hanya berfokus pada berbaik sangka? Ingat, Tuhan itu seperti yang diprasangkakan hambanya! Jika kita berbaik sangka kepada Tuhan,maka kebaikan yang akan diperoleh. Sebaliknya,jika pikiran selalu dipenuhi dengan berburuk sangka kepada Tuhan,maka yang datang menghampiri pastilah keburukan.

Karena setiap individu sejatinya memiliki kekuatan, maka sudah seharusnya kekuatan itu menjadi pendorong agar dirinya menjadi bermanfaat bagi orang lain. Bukankah orang yang paling baik adalah orang yang dapat memberi manfaat kepada sesamanya! Ingatlah,bahwa setiap manusia dilahirkan ke bumi memiliki perannya masing-masing dalam keberagamannya. Namun dalam perbedaan peran itu seharusnya sama-sama menuju kepada ridha dan cinta Tuhan. Itulah sejatinya tugas manusia dilahirkan ke dunia yang fana ini.

Sebagai pendorong, manusia membutuhkan stimulus (rangsangan) yang dapat menggugah hati dan akalnya agar dirinya bisa mengeluarkan seluruh potensi internal dalam rangka kebermanfaatannya di kehidupan ini. Namun yang paling utama adalah, adanya keinginan dan komitmen yang sangat kuat dan ikhlas untuk menjadi pribadi baik yang memberi manfaat kepada sesama. Tanpa landasan itu rasanya mustahil mewujudkan tujuan tadi. Yang tidak kalah pentingnya adalah kemauan kuat untuk selalu belajar dan belajar mendalami ilmu pengetahuan,apapun itu dalam kerangka berfikir yang positif. Sebab tanpa fondasi ilmu, seseorang tidak akan mampu memberikan keputusan yang terbaik.

Nah, stimulus yang kita butuhkan untuk mengeluarkan potensi internal, salah satunya adalah dengan INSPIRASI. Lantas, benda apakah itu inspirasi?dan seperti apa bentuknya? Inspirasi sebenarnya adalah suatu “benda” yang abstrak namun dapat menggugah menjadi sesuatu yang riil. Inspirasi merupakan sebuah acuan seseorang untuk mengambil sebuah tindakan,bersikap, dan berbuat. Bisa dikata ini adalah tindakan orisil karena seseorang itu sendiri yang menemukannya atau bahkan bisa juga inspirasi adalah tindakan meniru orang lain/imitasi karena merasa ada kesamaan dan ada manfaat yang bisa diambil.

Memang tidak mudah untuk menggali ide-ide baru. Dibutuhkan sebuah perenungan, atau bahkan “wangsit”. Karena ide atau buah pikiran bisa saja muncul disaat-saat yang tak terduga, ditempat-tempat tertentu, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ya..karena kita adalah manusia biasa, maka perlu untuk selalu berusaha mencari dan mencari ide baru inspiratif itu dimana?

Jika inspirasi sudah didapat, lalu dengan cara apa menuangkannya ke dalam bentuk yang dapat dimengerti dan ditangkap oleh orang lain? Banyak cara sih sebetulnya. Cara yang paling populer adalah dengan menuliskan ide,buah pikiran itu ke dalam naskah teks. Bisa berbentuk buku, artikel, atau hanya sekedar kalimat-kalimat singkat. Karena tulisan bersifat “melekat”, tidak akan mudah terhapus daripada hanya mengingatnya saja tanpa kita menuliskan ide dan buah pikiran itu. Disini pentingnya “kegiatan” menulis, sehingga orang lain dapat membaca,menelaah,menilai, dan menangkap pesan yang ingin disampaikan melalui tulisan kita. Sehingga bisa dikatakan, (tulisan) kita telah menginspirasi orang lain! Itulah tujuannya,bukan??

Untuk terlihat “hebat” dimata orang lain, tidaklah perlu melakukan hal yang terlalu muluk-muluk sebenarnya. Cukuplah menjadi diri sendiri saja,yang bertanggung jawab atas kehidupan ini, dan dapat menjadi mata air bagi orang lain. Sesederhana itu saja! Namun makna dibalik hal itu sangatlah luas dan mendasar. Dampaknya pun akan begitu luar biasa bagi yang melakukannya. Memulai dari hal-hal kecil dan dari diri sendiri dulu, barulah berlanjut ke luar. Itu yang disebut banyak orang sebagai “Prinsip Dari Dalam Ke Luar”.

Semoga menginspirasi..dan semoga Anda menjadi pribadi menginspirasi..

“Allah lebih mencintai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah. Bersungguh-sungguhlah kamu dalam melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu bersikap lemah.” (HR Muslim).

***

(Surabaya, Juni 2011)
Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...

Senin, Juli 26, 2010

Membangun Blogging Culture, Kenapa Tidak?


oleh : Nilam Ramadhani

Ditengah beragamnya media publikasi, ada sebuah pilihan murah namun efektif ketika kita hendak membangun kultur knowledge-based society di dunia yang kian datar ini, yakni dengan memanfaatkan fasilitas blog. Mengapa pilihannya harus blog? Ada sederet faktor tentunya. Dengan blogging, selain layanannya gratis (blogger.com,wordpress.com,dll) blog juga memberikan fasilitas untuk memasukkan multi konten (teks,gambar,link,widget).

Sudah menjadi kebiasaan masyarakat informasi di era ICT (Information and Communication Technology) seperti saat ini, yakni pemanfaatan fasilitas search engine di internet. Orang kini tidak lagi mencari informasi di media cetak saja. Informasi paling update dan lengkap justru tersebar di media internet. Informasi tentang lowongan pekerjaan, referensi pelajaran, produk, berita, kesehatan, obrolan, dan lain sebagainya, semuanya tersedia di internet. Segala informasi itu dimasukkan dalam sebuah wadah yang bernama situs web (website).

Setiap website yang memiliki konten-konten dengan kategori tertentu akan terindeks di database mesin pencari, semisal Google. Tren search engine inilah yang mesti kita lihat sebagai sebuah peluang untuk kepentingan -salah satunya adalah publikasi konstruktif. Para blogger biasanya memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh search engine ini agar blog mereka bisa dikenal luas di alam maya. Dengan sering dan banyaknya orang lain mengakses sebuah blog, itu berarti rangking indeks blog tersebut menjadi semakin diatas.

Tentu ada beberapa syarat supaya sebuah blog menjadi ramai dikunjungi oleh peselancar dunia maya yang lain. Hal ini berkaitan dengan konten atau materi yang mengisi blog serta tingkat originalitas dari sebuah ide pada tulisan yang diposting. Logikanya, semakin banyak postingan yang kita masukkan ke dalam blog, semakin banyak konten informasi yang akan terindeks di mesin pencari. Untuk itu, memang diperlukan adanya kreatifitas dari blogger agar syarat-syarat meningkatnya popularitas sebuah blog dapat dipenuhi.

Yang tidak kalah pentingnya, blog harus menunjukkan karakter dari si pemiliknya. Karakter yang dimaksud disini adalah, blog harus memiliki arah visi, spesialisasi, segmentasi, dan originalitas materi konten. Sebab, blog yang baik dan sehat setidaknya harus memiliki penjabaran karakter seperti yang disebut diatas. Hal itu akan sangat kontra-produktif ketika blog hanya berisi materi yang sekedar copy-paste tanpa memberikan penghargaan atau acknowledgment terhadap sumber referensi yang diambil. Dari sisi etika dan penghargaan karya cipta, tindakan tersebut tidaklah mendidik sama sekali.

Dari sisi tujuan, saat ini pemanfaatan blog bisa bermacam-macam. Bagi seorang akademisi misalnya, blog sudah menjadi alat bantu untuk memudahkan penyampaian materi ajar kepada para naradidiknya. Sehingga, akses informasi bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Bagi seseorang yang mulai membangun pasar bisnis, blog adalah tempat iklan murah namun efektif. Artinya, blog di dunia datar seperti sekarang, telah menjelma menjadi sebuah budaya baru bagi masyarakat informasi yang ingin mempublikasikan sesuatu di dunia cyber.

Jika dikaji lebih dalam lagi, aktivitas blogging sebenarnya dapat merangsang seseorang untuk dapat meningkatkan kreativitas di dunia maya. Karena dengan ngeblog, berarti seseorang telah membuka pintu untuk berbagi pengalaman, pengetahuan serta ide yang dituangkan lewat tulisan. Ketika hal itu dilakukan secara kontinyu dan berkala, maka pencapaian aspek kreativitas dapat memenuhi sasarannya. Dengan ngeblog, kita dapat menggiring persepsi orang lain bahwa diri kita sebetulnya memiliki kemampuan dan pantas untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Selain itu, secara otomatis, personal image branding seseorang akan mengalami trend yang positif.

Saat ini, blog dibuat bukan untuk digunakan oleh kalangan tertentu saja. Semua orang dengan berbagai latarbelakang keilmuan berhak dan bisa untuk memanfaatkan blog. Karena ngeblog bukanlah sebuah aktivitas yang teramat sulit. Blog disediakan untuk memudahkan, dan didesain sedemikian rupa supaya user friendly. Jadi, blogging sebetulnya sudah menjadi ciri yang melekat dari masyarakat yang melek informasi dan teknologi.

Adanya kebutuhan akan informasi yang menyebabkan blog menjadi semakin digeluti. Sedangkan di era globalisasi, internet dan blogging merupakan dua mediasi efektif untuk berekspresi dan publikasi. Kebiasaan blogging merupakan ruang latihan yang baik dalam berbagi-pakai ilmu pengetahuan dengan berwadahkan internet. Maka, dengan blogging culture, akan melahirkan shared-knowledge culture, sehingga akan mencetak knowledge-based society. Semoga..

Cetak Halaman Ini

Baca Selengkapnya...