Minggu, Oktober 12, 2008

Universalitas Sepakbola


oleh : Nilam Ramadhani*

*penikmat sepakbola dan olahraga

Sepakbola merupakan olahraga yang paling banyak diminati di seluruh dunia. Lihat saja anemo yang terjadi di masyarakat kita dan dunia saat akan terjadi perhelatan akbar semisal, Piala Dunia dan Piala Eropa. Jalan, toko, dan rumah-rumah penduduk seakan ikut “mengkampanyekan” pagelaran sepakbola empat tahunan tersebut. Dunia seolah tak pernah tidur ketika ajang dimulai. Diperkirakan semilyar pasang mata di dunia menyaksikan olahraga itu di televisi.
Sepakbola juga digunakan sebagai tempat untuk “menyuarakan” anti-rasisme yang masih dianut oleh sekelompok orang di dunia, terutama di eropa. Sering kita melihat tulisan di blackboard samping lapangan : ”Say No to Racism”. Hal ini menunjukkan, selain menghibur, sepakbola juga digunakan sebagai alat untuk mengkampanyekan “sikap egoisme-tak berdasar” tersebut. Tindakan fair play di lapangan menjadi tujuan utamanya. Bahkan FIFA (Football International Federation Asociation) menetapkan, setiap kali pertandingan dimulai, harus menyuarakan tindakan fair play ini, melalui simbol spanduk bertuliskan : “My Game is Fair Play”.
Indonesia sendiri merupakan negara di Asia Tenggara yang sebagian besar masyarakatnya mencintai sepakbola. Hal ini ditandai dengan semakin maraknya ajang kompetisi lokal seperti liga baik di divisi dua, satu dan utama. Bahkan saat ini terdapat satu tambahan “kasta” kompetisi tertinggi, yaitu liga super. Tak bisa dielak bahwa sepakbola telah memupuk persatuan dan nasionalisme di negara kita. Apalagi semenjak Piala AFC digelar 2007 lalu. Indonesia yang tergabung satu grup dengan Arab Saudi, Aljazair, Korsel, dan Bahrain telah menunjukkan bahwa sepakbola memberi cara tersendiri dalam mempersatukan bangsa ini.
Kala itu tidak ada yang namanya Aremania, Jakmania, Laskar Wong Kito, pendukung Maung Bandung, dan semua suporter klub. Yang ada hanyalah pendukung tim Merah Putih. Bahkan Presiden SBY memberikan dukungannya secara langsung terhadap tim Indonesia dengan hadir di stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Menpora Adhyaksa Dault mengakui, sepakbola dan olahraga sanggup menumbuhkan rasa nasionalisme bangsa ini. Untuk itu, olahraga adalah bidang yang perlu diberi perhatian oleh pemerintah dalam keberlangsungannya.
Di cabang lain yaitu bulutangkis, pada ajang Olimpiade Beijing Agustus 2008 lalu, Indonesia menorehkan hasil manis di saat bangsa ini memperingati 63 tahun kemerdekaannya. “Kado istimewa” itu diberikan oleh pasangan ganda putra Markis Kido dan Hendra Setiawan dengan memperoleh medali emas setelah menumbangkan pasangan China Cai Yun dan Fu Hai Feng.
Namun yang patut disayangkan akhir-akhir ini adalah tindakan anarkis oleh suporter. Anarkisme di tribun lapangan itu terjadi akibat belum dewasanya pemahaman kita akan tujuan dari olahraga. Dalih seperti wasit tidak fair, “suhu panas” di lapangan, serta hal lain yang dapat memicu perpecahan, seperti menjadi alasan yang dihalalkan bagi suporter dan pemain untuk berkonfrontasi. Sepertinya semangat nasionalisme telah luntur dimakan ego golongan.
Demi meredam segala bentuk anarkisme, memang dibutuhkan pembelajaran dan pendewasaan olahraga, terutama perasaan legawa terhadap apapun hasil dari sebuah pertandingan. Karena bagaimanapun, harus ada pihak/tim yang menang dan yang kalah. Jika yang dijunjung adalah sportivitas, maka penonton tak perlu lagi takut ketika berhadapan dengan pendukung lawan. Tujuan olahraga sebagai ajang hiburan (entertainment) serta memupuk semangat kebersamaan akan lebih indah jika dibandingkan dengan bentuk-bentuk anarkisme.
Di sisi lain, sepakbola seperti menjadi sebuah selebritas bagi pemainnya. Pemain bintang seperti mendapat porsi tersendiri di hati para penggemarnya. Bahkan, saat pemain bintang memutuskan “gantung sepatu”, aura dan daya tarik di lapangan tetap melekat ketika sang pemain berada di luar lapangan hijau. Sebut saja pemain legenda sekelas Pele asal Brasil, Maradona, Zinedine Zidane, dan suami dari Victoria “Spice Girls” Adams, David Beckham. Mereka adalah segelintir figur selebriti sepakbola yang tetap menjadi incaran para paparazzi untuk mendapatkan beritanya. Tak kalah pula para pemain bintang muda seperti Kaka, Cristiano Ronaldo (CR7), Fernando Torres, Fabregas, dsb juga tak kurang memancarkan pesonanya dibanding para seniornya itu. Kesan yang ada pada diri pemain akan penggemarnya adalah seksi, sensual, bahkan sex apeale.
Belum lagi jika berbicara tentang tren model rambut pemain. Pada Piala Dunia Jepang-Korsel 2002 lalu, banyak para penggemar meniru gaya rambut pemain idolanya. Kala itu yang paling tren adalah model rambut David Beckham dengan gaya mohawknya namun dengan potongan yang tetap tampak elegan dan berkelas. The Fenomenal Ronaldo dengan gaya “kuncung” ala biksu, yang konon memberi hoki tersendiri bagi yang empunya untuk mencetak gol-gol penentu kemenangan bagi tim Samba. Adapun Tony Meola, kiper Amerika Serikat pada Piala Dunia 1994, dengan gaya kunciran namun terkesan rapih. Roberto Baggio dengan rambut ala ekor kuda, dan masih banyak lagi tren rambut yang “dipajang”.
Apalagi jika melihat aksi para pemain di lapangan hijau. Kocekan bola, dribbling, set piece, umpan crossing matang, sundulan, serta eksekusi yang menciptakan gol, seperti sebuah serangkaian / alur yang memberi hiburan sekaligus menegangkan. Karena sepakbola adalah sebuah permainan kolektivitas, maka kekompakan timlah yang sangat menentukan kemenangan. Strategi pelatih, skills individu, sorak-sorai pendukung, tak berarti apa-apa jika kebersamaan tim tidak dijaga.
Itulah sepakbola, olahraga yang menghibur sekaligus media untuk bersosialisasi segala apapun yang masih dalam kewajaran. Memang bahasa untuk menyampaikan sesuatu tidak harus berupa kata-kata ataupun bentuk visual. Kadang, tanpa kita sadari, sepakbolapun sanggup menyampaikan pesan-pesan yang dapat diterima manusia dengan cara-caranya sendiri. Itulah universalitas sepakbola...

Cetak Halaman Ini

Posting yang Berkaitan



Cahaya Kehidupan mengatakan...

iya kali...tapi sayange aq gak patek suka ma sepak bola. aq lbh suka ma sinetron..hehehehehe....

"Pejantan Tangguh" mengatakan...

i love football,,, like grazyyy....